Kembali lagi Bersama Dokter Math. Blog yang akan menyembuhkan kalian dari rasa keputusasaan, kegelisahan, kekecewaan,dan kebingungan...Ouhh tapi tenang sajaaaaa DokterMath akan menyembuhkan penyakit itu semua..Oleh karena itu disilah tempat salah satunya obat matematika...
Nah pasien kuu pasti kalian penasaran kan sama dokter pasti bikin kepo gtuu...Dokter memang orangnya misterius kooo tapi tenang,,Dokter pasti selalu membawa oleh-oleh yaitu resep yang membuat para pasien menjadi lebih baik dan kembali membuka wawasan cakrawala seantero dunia asik...Oke langsung saja dokter ingin membahas tentang Pembelajaran Mtk
Pembelajaran Matematika
Perencanaan
pembelajaran merupakan tahapan penting untuk mencapai tujuan akhir
pembelajaran. Pembelajaran bukan sekedar aktivitas rutin pendidikan tetapi
merupakan komunikasi edukatif yang penuh pesan, sistemik, prosedural, dan sarat
tujuan. Karena itu harus dipersiapkan secara cermat. Perencanaan pembelajaran
merupakan tahapan atau proses dalam proses memahami beragam dokumen
normatifserta realitas kontekstual (siswa dan kebutuhannya), dan selanjutnya
mewujudkan hasil pemahaman itu menjadi dokumen aplikatif(silabus dan RPP) yang
siap dilaksanakan dalam pembelajaran di sekolah.
Perencanaan
proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang
memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran,
sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (pasal 20 PP 19/2005). Ada dua
wujud perencanaan, yakni silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar,
materi pokok/pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan
sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan
kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan
indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Sementara itu, RPP adalah
rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk
mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan
dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu)
kompetensi dasar2 yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa
indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
Mengingat
perencanaan pembelajaran merupakan tahapan penting menuju terlaksananya
pembelajaran dan tercapainya tujuan pembelajaran, maka perlu dipersiapkan
dengan baik. Selain itu, sebagai bagian dari dokumen KTSP, silabus dan RPP
perlu dipersiapkan secara cermat agar dapat dijadikan acuan pembelajaran dan
bukan sekedar dokumen kelengkapan KTSP di sekolah.
Kegiatan
pembelajaran diciptakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi
siswa. Kegiatan pembelajaran disiapkan untuk membantu siswa mencapai tujuan
pembelajaran. Ketercapaian tujuan pembelajaran dilihat dari seberapa banyak
indikator yang ditetapkan bisa dicapai siswa. Kegiatan pembelajaran yang
bermakna akan berdampak luas kepada pemahaman siswa, antara lain mereka bukan
hanya hafal dan paham terhadap sesuatu yang dipelajari tetapi juga dapat
menerapkan dan mentransfer untuk kepentingan lain dalam kehidupannya.
Kelancaran
dan efektivitas pembelajaran antara lain didukung oleh kehadiran alat
bantu/media/sumber belajar yang tersedia. Ketersediaan alat bantu/media/sumber
belajar memungkinkan siswa dapat belajar lebih baik, lebih intensif, dan lebih
banyak potensi yang dapat dikembangkan. Oleh karena itu, alat
bantu/media/sumber belajar perlu dihadirkan dengan tepat.
Lebih
lanjut, alat bantu/media/sumber belajar perlu dimanfaatkan secara sinergis
untuk mengoptimalkan pembelajaran. Sekalipun saat ini telah banyak media/sumber
belajar yang canggih, alat bantu mengajar (papan tulis, penghapus,
kapur/spidol) tetap diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran. Memang, media
pembelajaran (OHP, LCD, dan sejenisnya) semakin memudahkan guru dalam
pelaksanaan pembelajaran. Akan tetapi media itu juga bukan segalanya.
Penciptaan kondisi yang dapat mendorong siswa banyak membaca, berpikir, dan
menulis tetap lebih utama.
Pemilihan
alat bantu/media/sumber belajar harus benar-benar didasarkan atas pertimbangan
fungsi dan bukan sekedar untuk memenuhi gengsi. Artinya, penghadiran alat
bantu/media/sumber belajar harus benar-benar untuk dimanfaatkan secara optimal
dalam rangka membantu siswa untuk belajar dengan sebaik-baiknya. Alat
bantu/media/sumber belajar yang diperlukan harus ditulis secara rinci dan
jelas—misalnya untuk sumber belajar yang berupa buku perlu dicantumkan judul
buku, pengarang, penerbit dan nomor halaman—agar pihak lain yang membutuhkan
dapat melacak dan menemukan dengan mudah. Informasi yang jelas mengenai alat
bantu/media/sumber belajar yang digunakan dalam RPP juga menunjukkan bahwa
pembuat RPP sangat bertanggung jawab terhadap sumber-sumber yang digunakan.
Asesmen
(assessment) adalah seluruh proses untuk mengumpulkan informasi terkait
dengan kemajuan proses dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, tes (test)
termasuk instrumen asesmen. Panduan pengamatan atau wawancara untuk melihat
bagaimana kemampuan siswa berbahasa lisan juga termasuk instrumen asesmen.
Asesmen,
tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi (ATPPE) harus dipahami secara benar
dan digunakan secara tepat. ATPPE dalam pembelajaran Matematika dirancang untuk
mengukur kemampuan siswa secara optimal. ATPPE harus dilaksanakan secara
konsisten sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki siswa dan kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan. Penilaian berbasis kelas dan asesmen otentik
merupakan modus yang paling tepat untuk mengetahui kemajuan proses dan hasil
pembelajaran Matematika.
Dalam
silabus, hanya disebut teknik, bentuk instrumen, dan contoh instrumen asesmen,
tetapi dalam RPP semua instrumen harus disiapkan dan bahkan kunci jawaban,
rambu-rambu jawaban, atau rubrik penilaian yang diperlukan juga harus
disediakan.
Guru
sebagai pengajar menjadi fokus dalam kegiatan belajar mengajar, karena
peranannya yang sangat menentukan guru harus mampu mentransformasikan
pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa. Melalui proses belajar mengajar guru
harus mampu mengetahui kesulitan yang dialami siswa dan mencari alternatif
pemecahannya. Sedangkan sebagai perencana pengajaran, guru diharapkan mampu merencanakan
kegiatan belajar mengajar secara efektif. Salah satu alternatif yang dapat
membuat pembelajaran Matematika lebih menarik dan siswa dapat berperan aktif
adalah diciptakannya suatu media pembelajaran.
Media
disini sangat penting untuk menarik siswa untuk mau belajar dan membuat siswa
antusias dengan materi yang diberikan. Ada berbagai media pembelajaran yang
digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satunya yaitu dengan
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
Informasi
adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang mempunyai arti dan bermanfaat
bagi manusia. Sedangkan komunikasi adalah penyampaian pikiran oleh seseorang
kepada orang lain melalui media. Media yang berbasis teknologi dan informasi
ini diharapkan mampu memecahkan kesulitan yang dialami siswa.
Komputer
sebagai sarana untuk menyajikan informasi dapat dimanfaatkan diberbagai bidang.
Dalam sektor pendidikan pemanfaatan komputer sudah berkembang tidak hanya
sebagai alat yang hanya dipergunakan untuk membantu urusan keadministrasian
saja, melainkan juga sangat dimungkinkan untuk digunakan sebagai salah satu
alternatif dalam pemilihan media pembelajaran berbasis TIK.
Komputer
adalah salah satu contoh alternatif dalam pemilihan media pembelajaran, karena
dengan adanya komputer sebagai multimedia yang mampu menampilkan gambar maupun
tulisan yang diam dan bergerak serta bersuara, sudah saatnya komputer dijadikan
sebagai salah satu alternatif pilihan media pembelajaran yang efektif dan
menarik. Hal semacam ini perlu ditanggapi secara positif oleh para guru sekolah
menengah, khususnya guru bidang studi Matematika komputer sebagai media
bermanfaat bagi guru karena dapat dipergunakan sebagai alat bantu dalam
menyiapkan bahan ajar maupun dalam proses pembelajaran sendiri. Oleh karena itu
sudah semestinya para guru mengetahui manfaat komputer dalam proses belajar
mengajar dan mampu menggunakannya dalam proses belajar mengajar. Dengan
kemajuan teknologi diharapkan guru dapat membuat suatu media pembelajaran
berbasis TIK untuk dapat dipergunakan oleh siswa dalam kegiatan belajar
mengajar di sekolah maupun di luar sekolah secara mandiri. Media ini diharapkan
dapat mewakili peranan guru sehingga siswa dapat belajar dan memperoleh
informasi dan dapat berkomunikasi secara tidak langsung terhadap materi yang
sedang dipelajarinya.
Adapun
standar kompetensi lulusan yang harus dikuasai oleh siswa SMA untuk mata
pelajaran Matematika adalah sebagai berikut :
1. Melakukan
percobaan, antara lain merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis, menentukan
variabel, merancang dan merakit instrumen, mengumpulkan, mengolah dan
menafsirkan data, menarik kesimpulan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan
secara lisan dan tertulis.
2. Memahami
prinsip-prinsip pengukuran dan melakukan pengukuran besaran Matematika secara
langsung dan tidak langsung secara cermat, teliti, dan obyektif.
3. Menganalisis
gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik, kekekalan
energi, impuls, dan momentum.
4. Mendeskripsikan
prinsip dan konsep konservasi kalor sifat gas ideal, fluida dan perubahannya
yang menyangkut hukum termodinamika serta penerapannya dalam mesin kalor.
5. Menerapkan
konsep dan prinsip optik dan gelombang dalam berbagai penyelesaian masalah dan
produk teknologi.
6. Menerapkan
konsep dan prinsip kelistrikan dan kemagnetan dalam berbagai masalah dan produk
teknologi.
B.
Pengelolaan Pembelajaran Berbasis TIK
Pengelolaan
kelas menitik tekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan, berbeda
dengan pembelajaran (instruction) yang lebih menekankan aspek mengelola atau
memproses materi pelajaran. Menurut Raka Joni, pengelolaan kelas adalah
mengkondisikan kelas yang optimal bagi terjadinya proses belajar, yang meliputi
pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan
perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik
secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif. Pengaturan kelas
mencakup pengaturan peserta didik dan fasilitas. ICT sendiri termasuk dalam pengaturan
fasilitas untuk menunjang iklim konduksif bagi PBM di kelas. Baik iklim
kognitif, afektif, dan skill.
Iklim
kognitif yang dicapai dari kelas berbasis ICT adalah pemahaman terhadap materi
karena siswa diberikan kesempatan bereksplorasi dengan ICT untuk memecahkan
masalah baik secara sintesis maupun analisis. Iklim afektif yang dicapai dari
kelas berbasis ICT adalah akomodasi siswa lambat dan cepat secara adil. Siswa
yang lambat tidak akan menjadi bahan olok-olokan temannya, karena
keterlambatannya, karena ICT memiliki kesabaran dalam menerima
pengulangan-pengulangan sesuai kehendak pengguna (user). Begitu pun siswa
cepat, tidak akan merasa kurang, karena ICT mampu melayani semua rasa ingin
tahunya dengan kecepatan sesuai permintaan pengguna (user). Adapun iklim skill
adalah yang paling dominan tercapai. Penggunaan ICT menciptakan skill menulis,
berkomunikasi, dan mengakses pengetahuan dengan cepat, mudah, dan tepat.
Ada
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam pengelolaan kelas berbasis
ICT, diantaranya adalah:
1.
Penggunaan ICT sebaiknya dibagi dalam tiga katagori, yaitu one
laptop for all students, one student one laptop, dan one laptop for four
students.
2.
Pengunaan ICT bersifat “one laptop for all student” digunakan pada
saat guru memberikan konsep dasar yang harus dikuasai siswa secara menyeluruh.
Adapun one student one laptop dan one laptop for four students digunakan untuk
tahap pengembangan konsep, yang memerlukan aktifitas eksplorasi atau pemecahan
masalah.
3.
Penggunaan fasilitas hendaknya tidak terlalu sering bersifat individual,
yaitu “one student one laptop“, tetapi sesekali harus diberikan fasilitas
bersifat kerjasama, “one laptop for four student“. Ini semua sesuai dengan
hakekat belajar aktif, menurut Vygotsky [1896-1934] (1962), salah satu pengagas
konstruktivisme sosial, yang terkenal dengan teori “Zone of Proximal
Development” (ZPD). “Proximal” dalam bahasa sederhana bermakna “next“. Vygotsky
mengamati, ketika anak diberi tugas untuk dirinya sediri, mereka akan bekerja
sebaik-baiknya ketika mereka bekerjasama. Selanjutnya Vygotsky menyatakan,
setiap manusia mempunyai potensi, dan potensi tersebut dapat teraktualisasi
dengan ketuntasan belajar, tetapi di antara potensi dan aktualisasi terdapat
wilayah abu-abu. “Guru berkewajiban menjadikan wilayah abu-abu ini dapat
teraktualisasi, caranya dengan belajar kelompok. Dalam bahasa yang lebih umum,
terdapat tiga wilayah “cannot yet do”, “can do with help“, and “can do alone“.
ZPD adalah wilayah “can do with help”, wilayah ini bukan wilayah yang permanen,
kuncinya adalah menarik pembelajar menjadi dari zona tersebut, dengan cara
bekerjasama.
4.
Guru harus menetapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam penggunaan ICT
dikelas. SOP ini mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5.
Guru merancang kelas yang berbasis ICT yang bersifat dinamis sesuai dengan
kebutuhan pembelajaran. Harus dibedakan tempat duduk siswa ketika kebutuhannya
one laptop for all students, one student one laptop, dan one laptop for four
students.
Di
bawah ini adalah penjelasan mengenai model ADDIE dalam kaitannya dengan
pembelajaran berbasis TIK atau e-Learning.
Tahap
Analysis (Analisis)
Pada
tahap analisis, pendidik menjadi penyelidik. Mencari tahu hal-hal berikut:
- Apakah tujuan dari pembuatan
bahan ajar berbasis TIK ini?
- Apa tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai?
- Pengetahuan apa saja yang telah
dimiliki oleh peserta didik mengenai materi yang akan disampaikan?
- Siapakah yang akan menggunakan
bahan ajar berbasis TIK ini dan seperti apa karakteristik mereka?
- Bagaimana cara penyampaiannya?
- Dari segi pedagogis, apa yang
perlu diperhatikan untuk pembelajaran online?
- Sampai kapan batas waktu
pengerjaan ini?
Hasil
akhir dari tahap analisis adalah pengetahuan mengenai kondisi awal dan
informasi mengenai perencanaan seperti apa yang perlu dibuat.
Tahap
Design (Desain)
Pada
tahap desain, pendidik merupakan perencana. Pendidik mengambil seluruh
informasi dari tahap analisis dan memulai proses kreatif dari merancang bahan
ajar berbasis TIK untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pada tahap desain,
pendidik mengidentifikasi materi dan sumber daya yang akan dibutuhkan,
merancang kegiatan pembelajaran, menentukan bagaimana cara mengukur prestasi
belajar peserta didik.
Hasil
akhir dari tahap desain adalah sebuah cetak biru (blueprint) atau storyboard
pembelajaran berbasis TIK.
Tahap
Development (Pengembangan)
Pada
tahap pengembangan, pendidik adalah pencipta. Pendidik membuat dan menyusun
materi pembelajaran sesuai dengan rancangan atau storyboard yang telah dibuat
pada tahap desain. Sumber daya yang diperlukan seperti audio, video, grafis dan
multimedia lainnya mulai dikemas dalam sebuah bahan ajar. Pada tahap ini pula
dilakukan ujicoba bahan ajar yang telah dibuat kepada beberapa peserta didik
untuk memperoleh umpan balik dari mereka.
Hasil
akhir dari tahap pengembangan ini adalah sebuah bahan ajar berbasis TIK.
Tahap
Implementation (Pelaksanaan)
Pada
tahap pelaksanaan, pendidik adalah fasilitator pembelajaran. Pendidik
melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas, membantu peserta didik
belajar, menilai penampilan mereka, dan mengidentifikasi cara-cara untuk
meningkatkan hasil belajar. Pada tahap ini pendidik membimbing peserta didik
bagaimana menggunakan teknologi yang dipakai. Perlu dipastikan bahwa pada tahap
ini semua teknologi yang dipakai harus dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Tahap pelaksanaan ini bisa juga dikatakan sebagai tahap evaluasi dari tahap
perencanaan. Pendidik perlu mencatat apa saja yang meningkatkan pembelajaran
dan apa saja yang menghambat pembelajaran peserta didik dari bahan ajar yang
telah dibuat.
Hasil
akhir dari tahap pelaksanaan adalah tentu saja terjadinya proses pembelajaran
berbasis TIK yang efektif di dalam maupun di luar ruangan kelas.
Tahap
Evaluation (Evaluasi)
Pada
tahap ini pendidik merefleksikan dan merevisi apa yang telah dilakukan mulai
dari tahap analisis, desain, pengembangan, dan pelaksanaan. Jika terdapat
beberapa hal yang perlu diperbaiki, maka perlu diidentifikasi untuk kemudian
disempurnakan. Terdapat dua bentuk evaluasi yakni evaluasi formatif, yang
dilakukan pada masing-masing tahapan, serta evaluasi summatif untuk mengukur
sampai seberapa jauh peserta didik mampu belajar dari bahan ajar berbasis TIK
serta memperoleh umpan balik dari peserta didik.
Hasil
akhir dari tahap ini adalah laporan evaluasi dan revisi dari masing-masing
tahap untuk digunakan sebagai acuan revisi masing-masing tahapan serta umpan
balik secara keseluruhan dari bahan ajar yang telah dibuat.
Pengelolaan
pembelajaran berbasis TIK terdiri dari :
- Perencanan pembelajaran
meliputi :
- penyediaan fasilitas jaringan
komunikasi data,
- pangkalan data,
- media pembelajaran dan akses
publik oleh sekolah
sedangkan
guru perlu :
- menentukan materi yang dapat
disampaikan dengan media TIK;
- menetapkan kegiatan tatap muka
dan kegiatan online;
- menetapkan alat pembelajaran
TIK; sumber belajar meliputi buku-buku elektronik, alamat situs web,
materi presentasi, materi multimedia;
- menetapkan metode penilaian tes
atau non tes.
- Pelaksanaan Pembelajaran
dilakukan dalam kegiatan tatap muka melalui :
- tahapan penjelasan proses
belajar;
- tahap eksplorasi sumber-sumber
belajar;
- tahap kolaborasi berbagai
sumber belajar untuk memperoleh pemahaman yang utuh;
- tahap refleksi mengambil
kesimpulan dari topik yang sedang dipelajari,
- dan kegiatan online melalui
LMS di luar kelas melalui tahapan mempelajari petunjuk belajar;
mempelajari materi tutorial pada halaman web; mengikuti diskusi dan
konsultasi online; mengerjakan tugas-tugas .
3.
Penilaian
Penilaian
metode tes dan non tes yang dapat dilakukan dalam kegiatan tatap muka dan
online dalam penilaian formatif dan sumatif. Metode tes dilakukan menggunakan
tes interaktif yang dilengkapi dengan saran-saran dari hasil pekerjaan siswa.
Metode non tes meliputi pemberian tugas mengembangkan topik-topik pembelajaran,
menyusun materi diskusi, mengumpulkan materi pelajaran dari internet, forum
online, membuat ringkasan dari materi secara online, atau membuat karya secara
online.
- C.
Perencanaan Pembelajaran Matematika Berbasis TIK
Meskipun
implementasi pembelajaran berbasis TIK yang ada sekarang ini sangat bervariasi,
namun semua itu didasarkan atas suatu prinsip atau konsep bahwa pembelajaran
berbasis TIK dimaksudkan sebagai upaya pendistribusian materi pembelajaran
melalui media komputer, laptop, infokus dan media lain yang berbasis TIK. Ciri
pembelajaran dengan e-learning adalah terciptanya lingkungan belajar yang flexible
dan distributed.
Fleksibilitas
menjadi kata kunci dalam sistem e-learning. Peserta didik menjadi sangat fleksibel
dalam memilih waktu dan tempat belajar karena mereka tidak harus datang di
suatu tempat dan waktu tertentu. Dilain pihak, dosen dapat memperbaharui materi
pembelajarannya kapan saja dan dari mana saja. Dari segi isi, materi
pembelajaranpu dapat dibuat sangat fleksibel baik dari bahan pelajaran yang
berbasis teks samapai materi pemebelajaran yang sarat dengan komponen
multimedia. Namun demikian kualitas pembelajaran dengan e-learning pun juga
sangat fleksibel atau variatif, yakni bisa lebih jelek atau lebih baik dari
sistem pembelajaran tatap muka (konvensional). Untuk mendapatkan sistem
e-learning yang baik diperlukan perancangan yang baik pula. Distributed
Learning menunjuk pada pembelajaran dimana guru, siswa dan materi
pembelajaran terletak dilokasi yang berbeda sehingga siswa dapat belajar kapan
saja dan dari mana saja.
Implementasi
suatu e-learning bisa masuk kedalam salah satu kategori tersebut, yakni bisa
terletak diantara keduanya atau bahkan bisa merupakan gabungan beberapa
komponen dari dua sisi tersebut. Hal ini disebabkan antara lain karena belum
adanya pola yang baku dalam implementasi e-learning, keterbatasan perangkat
keras maupun perangkat lunak, keterbatasan biaya dan waktu pengembangan. Adapun
dalam proses belajar mengajar yang sesungguhnya, terutama di negara yang
koneksi internetnya sangat lambat, pemanfaatan sistem e-learning tersebut bisa
saja digabung dengan sistem pembelajaran konvensional yang dikenal dengan
sistem blended learning atau hybrid learning.
Dalam
merancang sistem e-learning perlu mempertimbangkan dua hal, yakni peserta didik
yang menjadi target dan hasil pembelajaran yang diharapkan. Pemahaman atas
peserta didik sangatlah penting, yakni antara lain adakah harapan dan tujuan
mereka dalam mengikuti e-learning, kecepatan dalam mengakses internet atau
jaringan, keterbatasan bandwidth, biaya akses internet, serta latar belakang
pengetahuan yang menyangkut kesiapan dalam mengikuti pembelajaran. Pemahaman
atas hasil pembelajaran diperlukan untuk menentukan cakupan materi, kerangka
penilaian hasil belajar, serta pengetahuan awal.
Sistem
e-learning dapat diimplementasikan dalam bentuk asynchronous, synchronous,
atau campuran antara keduanya. Contohnya e-learning asynchronous banyak
dijumpai di internet baik yang sederhana maupun yang terpadu dalam portal
e-learning. Sedangkan e-learning synchronous, siswa dan pengajar harus
berada di depan komputer secara bersama-sama karena proses pembelajaran
dilaksanakan secara live, baik melalui video maupun audio conference.
Selanjutnya dikenal pula istilah blended learning yakni pembelajaran
yang menggabungkan semua bentuk pembelajaran misalnya on-line, live, maupun
tatap muka (konvensional).
Dalam
rangka mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang kegiatan
pembelajaran, dapat dibangun system e-learning yang
diimplementasikan dengan paradigma pembelajaran on-line terpadu menggunakan LMS
(Learning Management System) yang terkenal yaitu Moodle.
Melalui
e-learning ini guru dapat mengelola materi pembelajaran, yakni :
menyusun silabi, mengupload materi pembelajaran, memberikan tugas kepada siswa,
meneriam pekerjaan siswa, membuat tes atau kuis, memberikan nilai memonitor
keaktifan siswa, mengolah nilai siswa, berinteraksi dengan siswa dan
sesama siswa melalui forum diskusi, chat, dan lain-lain. Di sisi lain, siswa
dapat mengakses informasi dan materi pembelajaran, berinteraksi dengan sesama
mahasiswa dan dosen, melakukan transaksi dan tugas-tugas dalam pembelajaran,
mengerjakan tes atau kuis, melihat pencapaian tes hasil belajar dan lain-lain.
E-learning
dapat diimplementasikan dengan
menggunakan LMS Moodle. LMS madalah perangkat lunak untuk membuat materi
pembelajaran on-line (berbasis web), mengelola kegiatan pembelajaran serta
hasil-hasilnya, memfasilitasi interaksi, komunikasi, kerjasama antar guru dan
siswa. LMS mendukung berbagai aktivitas, antara lain: administrasi, penyampaian
materi pembelajaran, penilaian (tugas, kuis), kolaborasi, dan komunikasi/
interaksi.
Moodle
merupakan salah satu LMS yang dapat diperoleh secara bebas. Moodle dapat dengan
mudah dipakai untuk mengembangkan system e-learning. Dengan Moodle
portal e-learning dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan.
Salah
satu keuntungan bagi guru yang menbuat perencanaan pembelajaran berbasis LMS
adalah kemudahan. Hal itu karena guru tidak perlu mengetahui sedikitpun tentang
pemrograman web, sehingga waktu dapat dimanfaatkan lebih banyak untuk
memikirkan konten (isi) pembelajaran yang akan disampaikan. Disamping itu
dengan menggunakan LMS Moodle, maka kita cenderung untuk mengikuti
paradigma e-learning yang memungkinkan menjalin kerjasama dalam “knowledge
sharing” antar sekolah di Indonesia.
Model
pembelajaran e-learning :
1.
Model tutorial, cara belajar mandiri, pada situasi latihan yang berorientasi
pada siswa, sebagai tutor pengganti, siswa dapat berinteraksi dengan computer
yang telah diprogramkan secara khusus (e-learning). Siswa berinteraksi
secara langsung dengan computer yang telah deprogram untuk dimengerti isi
programnya dan computer bereaksi terhadap respon yang dilakukan oleh siswa.
2.
Model simulasi, computer lebih berperan sebagai sumber belajar dari alat
intruksi yang langsung. Oleh sebab itu dapat menimbulkan berbagai perubahan pada
berbagai variable kunci. Situasi praktek simulasi dapat berasal dari subjek
yang beragam.
- D.
Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Berbasis TIK
Dalam
pelaksanaan pembelajaran Matematika disesuaikan dengan karakteristik,
lingkungan personal dan sosial siswa, sehingga lebih menarik dan kontektual.
Pelaksanaan pembelajaran bukan lagi kegiatan mengajar, tetapi merupakan
kegiatan belajar, yang memungkinkan siswa belajar tanpa kehadiran Guru. Siswa
aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu
pengetahuan yang harus dikuasai dengan pemanfaatan media tehnologi dan
telekomunikasi. Metode yang digunakan yaitu dengan sistim belajar diskaveri
/inkuiri
- E.
Evaluasi Pembelajaran Matematika Berbasis TIK
Evaluasi
pembelajaran matematika dilaksanakan setiap pembelajaran pada awal, ditengah
dan setelah akhir kegiatan. Evaluasi berupa tes tertulis, sikap, dan hasil
kerja kelompok. Bentuk dan model penilaian yang digunakan bervariasi tergantung
materi yang sedang dipelajari. Aspek yang masuk dalam penilaian pembelajaran
Matematika tidak hanya mencakup kognitif, afektif saja, tetapi juga aspek
psikomotor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar